Apakah anda memiliki halaman kosong di sekitar rumah yang belum dimanfaatkan? Bingung ingin menanam apa di halaman anda? Ada baiknya kita mencoba untuk menanam tanaman yang tidak hanya indah untuk dipandang, namun juga memiliki nilai tambah dan dapat dimanfaatkan hasilnya. Salah satu yang dapat kita coba untuk tanam adalah jenis tanaman obat keluarga atau lebih sering disingkat dengan TOGA.
TOGA (Tanaman Obat Keluarga) adalah tanaman hasil budidaya rumahan yang berkhasiat sebagai obat. Taman obat keluarga pada hakekatnya adalah sebidang tanah, baik di halaman rumah, kebun ataupun ladang yang digunakan untuk membudidayakan tanaman yang berkhasiat sebagai obat dalam rangka memenuhi keperluan keluarga akan obat-obatan. Kebun tanaman obat atau bahan obat dan selanjutnya dapat disalurkan kepada masyarakat, khususnya obat yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Budidaya tanaman obat untuk keluarga (TOGA) dapat memacu usaha kecil dan menengah di bidang obat-obatan herbal sekalipun dilakukan secara individual. Setiap keluarga dapat membudidayakan tanaman obat secara mandiri dan memanfaatkannya, sehingga akan terwujud prinsip kemandirian dalam pengobatan keluarga.
TOGA memiliki banyak jenis, mulai dari umbi-umbian, tanaman perdu, rumput-rumputan, tanaman air, hingga tanaman pohon dan tumbuhan merambat. Kesemuanya memiliki fungsi dan jenis yang berbeda beda. Temulawak misalnya, kandungan curcuma yang ada pada temulawak dapat membantu meningkatkan stamina, meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu mengobati penyakit liver.
Salah satu tanaman obat yang menjadi andalan di Kelurahan daratsekip yaitu tanaman kunyit hitam. Mungkin kebanyakan orang berfikir bahwa yang namanya kunyit itu berwarna kuning. Namun masih sedikit orang yang tahu tentang kunyit hitam. Jenis kunyit ini memiliki manfaat yang cukup banyak.
Tanaman kunyit hitam adalah salah satu jenis tanaman kunyit yang selama ini cukup sulit untuk dapat ditemui, padahal jenis tanaman ini perlu untuk dibudidayakan karena khasiatnya yang sangat banyak untuk berbgaia jenis pengobatan dan sangat manjur. Bentuk kunyit hitam sebenarnya sama seperti kunyit biasa, akan tetapi rimpangnya akan terlihat hitam apabila sudah cukup matang. Karena berbagai manfaat dan khasiatnya, tanaman ini cukup banyak dicari dan perlu untuk dikembangbiakan.
Di Kelurahan Daratsekip, tanaman ini tidak sulit untuk ditemukan. Mengapa demikian? Hal ini tidak terlepas dari peran salah satu warga di Kelurahan Daratsekip yang berhasil mengembangbiakkan, mengembangkan serta mendorong pemanfaatan salah satu TOGA ini kepada masyarakat.
A Ma (nenek) Minah (74) demikian dia biasa disapa, adalah salah satu penggiat TOGA di Kelurahan Daratsekip. A Ma Minah tinggal di Gg. Meranti 7. Halamannya yang luas tidak dibiarkannya menganggur begitu saja. Berbagai jenis tanaman ia tanam mulai dari tanaman hias, hingga berbagai jenis TOGA.
Awal mula A Ma Minah tertarik dengan budidaya TOGA berawal dari keprihatinannya pada masyarakat di lingkungannya yang sakit namun tidak memiliki biaya untuk berobat. “Awal mula saya mulai menanam tanaman obat adalah ketika saya melihat tetangga saya ada yang sakit namun tidak mampu untuk pergi berobat. Saya merasa kasihan dan saya bilang kepada dia tidak perlu khawatir akan saya bantu dengan obat-obatan dari tanaman herbal,” ujarnya.
Sejak saat itu, A Ma Minah mulai menanam beberapa jenis tanaman obat di pekarangan rumahnya. Tidak jarang, tanaman obat tersebut ia berikan secara gratis bagi siapa saja yang membutuhkan atau meminta kepada A Ma Minah. Dari sekian banyak tanaman obat yang ditanamnya, ada beberapa yang dianggapnya memiliki khasiat yang mujarab untuk mengobati berbagai jenis penyakit yaitu tanaman sirih merah dan kunyit hitam.
“Beberapa tahun yang lalu oleh dokter, saya divonis mengalami penyakit gula. Saat itu kadar gula saya mencapai angka 300. Saya merasa sedih sekali, karena saya tahu bahwa penyakit ini sulit untuk disembuhkan. Saya juga tidak memiliki biaya untuk berobat. Kemudian saya teringat akan salah satu tanaman obat yang berkhasiat untuk mengobati penyakit ini, namanya Sirih Merah. Semenjak saya saya mulai divonis mengidap penyakit gula, saya mulai rajin mengkonsumsi ramuan sirih merah. Selama ini, saya tidak pernah menebus obat yang diberikan oleh dokter kepada saya. Saya hanya mengkonsumsi ramuan sirih merah secara teratur serta menjaga makanan saya. Ketika saya kembali untuk memeriksakan kondisi penyakit saya ke dokter, ternyata kadar gula saya sudah turun ke angka 58,” lanjutnya bercerita.
Selain sirih merah, A Ma Minah juga giat mengkampanyekan kunyit hitam serta manfaatnya kepada masyarakat. “Tidak banyak orang yang tahu tanaman kunyit hitam, padahal manfaatnya besar sekali karena dapat mengobati berbagai jenis penyakit. Bagi yang memiliki riwayat kolesterol tinggi, kunyit hitam dapat membantu menurunkan kadar kolesterol, serta membantu menurunkan serta menjaga berat badan agar tetap ideal,” ujar A Ma Minah bersemangat.
Namun kata A Ma ada satu pantangan yang menjadi kepercayaan turun temurun terutama bagi mereka yang hendak mengembangbiakkan tanaman kunyit hitam ini. “Apabila ada orang yang sakit dan meminta kunyit hitam ini maka kita wajib untuk memberikannya secara gratis. Tidak boleh sekali kali kita memperjualbelikan tanaman ini apalagi mengambil keuntungan dari orang yang sedang sakit. Apabila kita menjual atau mengambil keuntungan dari orang lain maka niscaya hal buruk atau kemalangan akan menimpa kita,” ujarnya.
A Ma Minah adalah satu dari beberapa penggiat TOGA yang ada di Kelurahan Daratsekip. Keberadaan mereka tidak hanya untuk membudidayakan dan mengembangkan tanaman obat, namun juga mendorong pemanfaatannya bagi masyarakat luas khususnya di wilayah Kelurahan Daratsekip. Melalui kerja keras mereka serta dibantu oleh kader-kader Penggerak PKK kelurahan, maka pada tahun 2013 Kelurahan Daratsekip berhasil memperoleh penghargaan Pakarti Utama III Tingkat Nasional Pelaksana Terbaik Pemanfaatan Hasil TOGA (Tanaman Obat Keluarga) Kategori Kota.
Di akhir wawancara A Ma Minah menitipkan pesannya, “Kesehatan adalah hal yang paling utama. Untuk apa kita memiliki kekayaan apabila kita sendiri sakit-sakitan. Lalu apabila kita kemudian jatuh sakit, saya yakin tidak semua dari kita punya uang untuk berobat apalagi hingga keluar negeri. Jangan berkecil hati, kita masih dapat memanfaatkan tanaman obat yang tidak kalah khasiatnya dibanding obat-obatan dari pabrik. Selain tidak memiliki efek samping bagi tubuh, kita juga dapat membudidayakan sendiri tanaman tersebut. Yang diperlukan hanyalah keyakinan bahwa setiap penyakit pasti ada tanaman obatnya,” ujarnya menutup percakapan sore itu. (rus)


